Selasa, 04 Oktober 2022
Berisik
Minggu, 21 Agustus 2022
Buku Baru Lagi?
Dia masih hal absurd yang sulit dipahami. Namun, gak berarti aku gak bisa memahaminya. Bisa, cuma butuh waktu aja. Akhir-akhir ini aku bersemangat dibuatnya. Kubaca pelan-pelan, kucerna maksud dari tiap paragrafnya dan kupetik pesan dari tiap babnya. Banyak hal yang baru kusadari darinya. Aku semakin terbuka dalam berpikir, diajak untuk meninjau ulang nilai-nilai hidup yang kupegang.
Ini buku yang aku cari dari dulu. Buku yang mengajarkan banyak hal tapi gak terlihat seperti mengguruiku. Aku gak merasa bodoh dibuatnya. Buku yang bisa kubaca kapanpun dan dimanapun. Kecil bukunya, tapi isinya wah...
Buku ini berbeda sekali dengan buku sebelumnya. Buku dengan sampul 'nyeni' dan judul bombastis. Harganya mahal eh ternyata isinya gak jelas. Oh maaf. Mungkin bukan isinya yang gak jelas, tapi aku yang tidak cocok dengan isi buku ini. Awalnya aku menyesal beli bukunya tapi sekarang enggak.
Sekarang buku itu udah jadi masa laluku. Meskipun banyak gak jelasnya dan bikin sakit kepala tapi aku belajar bahwa quotes 'dont judge book by its cover' benar adanya. Dari buku itu aku juga belajar bahwa gak semua hal harus tuntas dan selesai. Ada beberapa hal yang emang porsinya selesai di setengah perjalanan aja.
Kembali ke buku baru. Aku sudah hampir selesai membacanya. Tapi aku enggan untuk selesai. Takut kalau akhir dari buku ini gak sesuai dengan ekspektasiku. Mungkin kalau akhir dari buku ini sesuai ekspektasiku, akan kubaca ulang dan kujadikan buku pegangan selamanya. Tapi kalau enggak, mungkin dia akan jadi salah satu buku terbaik yang pernah kubaca. Akan kukenang. Setidaknya kenangan dengan buku yang sekarang akan lebih manis daripada kenangan dengan buku sebelumnya.
Kamis, 17 Februari 2022
Hai, Matahari.
Aku menyebutnya matahari. Seorang teman baik yang hobinya membakar semangatku. Ia sangat berapi-api dengan ambisi. Dan biasanya orang yang dekatnya pun akan jadi manusia yang sangat bersemangat dan berambisi. “Semangat, Mey,” kata-kata yang selalu terucap dari mulutnya setelah kami bercerita panjang lebar. Selalu itu, kayak gak ada kata-kata lain.
Dia teman bercerita yang baik, dulu. Ya, dulu. Sekarang? Dia hanya penonton setia storyku. Teman satu grup WA yang bertegur sapa saat ulang tahun dan hari besar saja. Itupun bertegur sapanya di dalam grup. Tidak pernah bertegur sapa melalui personal chat lagi. Hampir menjadi orang asing. Mungkin beberapa bulan lagi, kita lihat saja.
Kemarin, ia mampir ke berandaku. Menunjukkan solidaritasnya sebagai teman. Lalu, tidak lama setelah itu, dia muncul dengan senyum khasnya bersama dengan lagu sedih kesukaannya. Lagu perpisahan sementara. Lagi dan lagi tentang perpisahan sementara.
Tentangnya masih menjadi rahasia. Hobinya menjadi manusia yang menyedihkan, padahal dia matahari. Dia terluka, tapi dia tidak menyadarinya. Dia temanku, akan selalu menjadi temanku.
Hai, matahari. Tetap hidup dengan segala ambisimu, ya. Di belahan bumi manapun kamu berada, tetaplah hidup seperti matahari yang siap memberi cahaya untuk orang sekitarmu dan selalu membakar semangat orang yang patah hati.
Yogyakarta, 16 Februari 2022
ditulis saat mendengar lagu kesukaannya.
Kamis, 10 Februari 2022
Iseng - Iseng
Jadi gambar di atas adalah cuplikan dari karyaku pada kompetisi menulis skenario 2021 silam. Namanya kompetisinya Maxscript Class 2021 yang diadakan oleh Maxstream & Wahana Edukasi.
Aku yang dari dulu cuma bisa menuliskan isi kepala saja eh ternyata bisa menulis skenario juga. Jatuh cinta dengan dunia kepenulisan sejak SMP. Sudah sebelas tahun, tapi belum jadi penulis. Ya, gapapa.
Awalnya menulis cuma jadi pelarian saat lagi penat dan berantakan, tapi sekarang rasanya pengen jadi penulis beneran, deh. Belum tahu sih, mau jadi penulis novel atau penulis skenario, ya intinya mau jadi penulis.
Jadi mau cerita keisengan tahun lalu. Iseng ikut kompetisi menulis skenario. Iseng aja, eh ternyata sampai jadi Top 10 Finalist. Akhirnya, untuk pertama kalinya, hobi menulisku menghasilkan uang dan dihargai lebih banyak orang.
Kita gak pernah tahu kalau gak kita coba. Sebenarnya, sebelum iseng ikut kompetisi menulis skenario, udah beberapa kali coba ikut kompetisi menulis novel, tapi belum rezeki. Belum coba kirim karya ke penerbit, sih. Tapi mungkin nanti akan dicoba.
Senang, bersyukur, dan bangga sama diri sendiri karena udah berani iseng ikut kompetisi dan berani berjuang sampai akhir. Hal yang paling membanggakan bukan karena masuk Top 10 Finalist, dan hadiahnya, tapi karena bisa belajar dan diskusi langsung sama orang-orang keren di industri film seperti mbak Gina S. Noer, mas Salman Aristo, mas Arief Ash Shiddiq, mas Yandi Laurens, dan mas Eka Kurniawan. Waw, jadi pengalaman yang gak bakal terlupakan pokoknya.
Selesainya Maxscript Class 2021 gak berarti selesai juga perjalanan menulisku. Selesai Maxscript Class 2021 adalah awal dari perjalanan menulisku, khususnya menulis skenario. Masih terus belajar, dan mengasah diri dalam dunia kepenulisan.
Oh ya, jangan lupa mampir ke akun kwikku, ya. Disana aku menulis cerita fiksi. Tenang, baca ceritanya masih gratis, kok. Hehe. Ini linknya :https://www.kwikku.com/meysam.
Senin, 24 Januari 2022
Sebuah Pengakuan
Kali ini memutuskan untuk menuliskan sesuatu yang sangat personal bagiku baru-baru ini. Sebuah pengakuan. Kalau tidak ditulis, artinya belum diakui. Belum mengakuinya sama saja seperti menyiksa diri sendiri.
Akhirnya merasakan lagi perasaan kacau ini, yang membuat kehidupanku tidak berjalan sesuai dengan rencanaku. Ya, baru dua minggu sih, tapi ngefek banget.
Perasaan kacau yang kusebut dengan buku baru nan absurd. Yang membuatku rela membuang-buang waktu hanya untuk memahaminya. Semakin dipahami ternyata semakin buat kacau.
Pun caraku bertemu dengan kekacauan ini terbilang aneh. Sudah menemukannya di April 2021 lalu, tapi baru terasa kacaunya baru-baru ini. Setelah aku punya teman intel yang berisik, haha.
Kacau nan absurd. Ya, ini masalah. Ingin rasanya menghadapinya, namun aku pun tidak tahu harus menghadapinya seperti apa. Menerimanya? Tidak semudah itu menerimanya karena menerimanya adalah ketakutan terbesarku. Akan ada harapan-harapan jahat yang menghampiriku setelah proses penerimaannya. Tapi kalau tidak diterima, artinya menyangkal dong? Kan sudah janji tidak akan menyangkal apapun.
Ya, ya, aku harus mengakui kalau aku senang dan takut dalam waktu yang bersamaan. Sejauh ini cukup menyadari dan mengakuinya. Untuk menerimanya dengan lapang dada, butuh waktu. Semoga kekacauan ini cepat menemukan jalan keluarnya. Entah seperti apa nanti akhirnya, ya serahkan saja pada-Nya.
Minggu, 23 Januari 2022
Ber-Eksamen
Akhirnya bisa ber-eksamen setiap hari. Setelah menjadi wacana sejak 2019, akhirnya terealisasikan di awal tahun 2022. Selamat, ya, aku.
Tiga minggu berproses. Sama Tuhan diajak jalan-jalan ke masa lalu. Perjalanan yang melelahkan memang. Dan, ya, sampai juga di proses penerimaan. Aku tahu, ini masih awal dari perjalanan panjangku. Di depan sana, aku akan menemukan kerikil-kerikil tajam, yang mungkin akan mengikis perasaan-perasaan negatif itu. Terimakasih, Tuhan.
Setelah membaca lagi hasil eksamen ku setiap hari, jadi sadar ternyata kehidupanku berubah sekali sejak lima tahun lalu, saat pertama kali marah ke Tuhan dan mogok doa. Aku terlalu sering lari dari masalah, hobi menyangkal perasaan-perasaan negatif. “Anak pertama itu harus kuat,” kalimat yang selalu ditanamkan ke diriku, dulu. Kalimat itu juga yang membuatku lupa, kalau aku manusia biasa yang bisa sedih, bisa nangis, bisa gagal, bisa ditolak.
“Kamu jagain mama dan adik-adik, ya,” pinta orang-orang dewasa, kala itu. Permintaan yang menuntutku untuk jadi wonder woman. Kalimat yang membuatku hidup untuk keluargaku, bukan untuk diriku sendiri. Terlalu sayang mereka, terlalu protektif, terlalu posesif. Overthinking jadi makanan sehari-hari. Sampai akhirnya terlintas pertanyaan, “kalau aku yang jagain mama dan adik-adik, yang jagain aku siapa?”
Pak, maaf borumu ini gagal jadi orang kuat yang dibayangkan orang-orang. Borumu ini lemah, terlalu lemah. Tapi puji Tuhan sekarang dia sudah sadar, dan mau mengakui kalau dia lemah. Dia butuh pertolongan. Sebenarnya, Tuhan sudah menunjukkan pertolongan itu tiga tahun lalu. Tapi tiga tahun lalu, dia masih bebal. Tiga tahun lalu, borumu ini merasa kalau dia adalah anak perempuan yang paling kuat.
Proses ini membuatku sampai pada kesimpulan, kalau waktu yang baik itu bukan hanya saat kita bisa tertawa lepas, tapi juga saat kita sadar dan mau mengakui kalau kita sedang tidak baik-baik saja. It’s okay. Diterima sedih dan kecewanya, dirasain, jangan disangkal. Perasaan sedih dan kecewa pun butuh pengakuan dan penerimaan dari diri kita sendiri.
Minggu, 16 Januari 2022
Buku Baru
Kukira selama ini hidupku masih tentang purnama dan matahari. Ternyata enggak. Kukira aku akan terus menuliskan tentang rindu dan luka. Ternyata enggak juga. Terlalu lama mengejar mimpi orang lain, sampai lupa kalau aku punya dunia baru, buku baru. Masih belum tahu ceritanya tentang apa, masih dicoret-coret.
2021 adalah tahun peralihan, masa pendewasaan yang paling menyakitkan, sejauh ini. Satu per satu teman pergi. Ada yang pergi karena mengejar mimpi, ada pula yang pergi karena sudah tidak satu visi. Ada yang pergi dengan pamit, ada pula yang pergi tanpa pamit. Merasa sendiri, merasa semua manusia sama saja, jahat. Takut yang berlebihan. Lalu sadar, ternyata aku sedang tidak baik-baik saja. Menyadari, dan mengakuinya adalah sebuah pencapaian luar biasa bagiku. Terimakasih, ya, aku.
2021 juga jadi tahun dengan petualangan yang lebih seru dari tahun-tahun sebelumnya. Nyemplung ke dunia baru yang hampir membawaku ke mimpi masa kecilku. Hampir. Berarti belum sampai. Selain nyemplung ke dunia baru, aku juga nyemplung ke mimpi orang lain, mimpinya mama. Mimpinya mama supaya aku bisa kerja sesuai dengan ilmu yang sudah kupelajari di perkuliahan. Karena kekuatanku terbatas, aku harus merelakan mimpi masa kecilku itu. “Mungkin belum saat,” kataku memberi penghiburan pada diriku sendiri, kala itu.
Ada satu lagi, aku tidak tahu menyebutnya apa. Namun, sejak April 2021 aku sudah mencoba mempelajarinya, menyoret-menyoretnya, tapi sampai sekarang bentuknya masih belum jelas. Absurd. Kuingat-ingat lagi, belakangan ini aku sering membukanya, memperhatikannya, dan mencari makna dibalik keabsurd-annya. Aneh, tapi aku senang membuang-buang waktuku untuk diam memandangnya. Sejam, sehari, seminggu, berminggu-minggu. Belum kutemukan juga.
Kalau tahun sebelumnya aku identik dengan purnama, matahari, luka, dan rindu, bisa kupastikan tahun ini aku identik dengan hal absurd itu.
Selamat tahun baru 2022. Selamat datang perjuangan baru.
Yogyakarta, Januari 2022
Senin, 11 Oktober 2021
Bermain Ayunan
Bermain
ayunan yang menghadap laut kusebut dengan pulang. Tiang besi yang menopang dua
ayunan sekaligus. Ayunanku dan ayunan kosong di sebelahku. di bawah dua ayunan
tersebut, ada semak berduri. Mungkin kalian bertanya, bagaimana caranya aku
bisa nyaman dan senang bermain ayunan yang di bawahnya ada bahaya yang akan
menyebabkan luka. Aku sudah terbiasa dengan luka. Aku tidak takut dengan luka.
Rasa tidak takut tersebut menyelamatkanku. Aku tidak pernah jatuh dan terluka
lagi.
Pernah,
ada seorang teman menghampiriku. Katanya dia suka biru, sama sepertiku. Biru laut
dan biru langit yang menyatuh, sangat menenangkan. Lalu, ia banyak bercerita
tentang biru lainnya. Lalu aku menyelanya, akan lebih baik jika ia bercerita
sambil duduk di atas ayunan bukan? Kalian tahu apa yang ia lakukan?
Ia
menjatuhkan dirinya pada semak berduri tersebut. Sontak, aku pun turun dari
ayunan, dan ikut terjebak pada semak berduri tersebut. “Maaf,” katanya.
Ia
lalu menoleh ke sebelah kananku. Jauh dari tempat kami terjatuh, terlihat
tiang besi yang lebih kokoh, menopang satu ayunan. Ayunannya tampak jauh lebih
bagus dan lebih besar daripada ayunanku. Namun, untuk bisa duduk di atas ayunan
itu tidak lah mudah. Jalannya sempit, berlumpur, dan dikelilingi tanaman
berduri. Tiang pegangannya pun berduri. Ayunan di atas bukit
“Harusnya
tempatku di sana. Aku ke sini untuk meminta bantuanmu.”
Aku
mengernyitkan dahi, berpikir keras bagaimana caranya aku bisa membantunya ke
sana, sementara aku tidak boleh meninggalkan ayunanku.
“Doakan aku.”
5 tahun berlalu...
Sekarang aku mengerti.
aku mengerti mengapa ia suka biru dan ingin ke ayunan yang mirip seperti neraka
itu. Aku tahu alasannya menghampiriku, namun tidak berani untuk duduk. Aku
paham betul mengapa ia merasa bersalah setelah aku mencemaskannya. Aku mengerti
mengapa ia meminta doa dariku.
Aku melepaskannya, dan
mendoakannya. Katanya, luka yang ia dapat dari tempatku tidak berarti apa-apa
dengan luka yang akan ia dapat di tempt barunya. Ia tidak akan mengingat
luka itu. Ia hanya akan mengingat cerita kami tentang biru. Ia akan mengingatku
juga, sebagai biru yang memar karena aku suka dengan tempat berbahaya, padahal
ada banyak tempat yang lebih baik.
Kemudian, ada
lagi yang datang. Belum apa-apa, sudah ingin duduk, tanpa permisi. Aku
mencegahnya, dan mengusirnya.
Lalu, ada lagi yang
datang. Si tukang cerita yang cerewet. Ia menceritakan kekagumannya pada
purnama. Dia benar, purnama memang cantik, menenangkan seperti biru. Namun,
purnama tidak selalu ada seperti biru laut dan biru langit.
“Boleh aku duduk?”
Tanyanya sopan menoleh ke ayunan kosong di sebelahku.
Aku menatapnya penuh
harap. Berharap, ia tahu risiko menduduki ayunan yang di bawahnya penuh dengan
batu kerikil tajam. Berharap, ia tahu bahwa ayunan kosong di sebelahku itu
sangat spesial bagiku. Aku tidak ingin sembarang orang duduk di sana.
Mungkin kalian bertanya, mengapa temanku yang bercerita tentang biru, langsung kuberi tawaran untuk duduk, sedangkan si tukang cerita tidak. Temanku yang menyukai biru adalah teman pertamaku, yang dengan tulus berteman denganku. Bersamanya, menatap laut yang sebenarnya terdengar bising karena ombak, menjadi suatu ketenangan yang tidak kudapatkan dimanapun.
Yogyakarta, 12 Desember 2020
Minggu, 24 Januari 2021
Penyembuh yang tak Sembuh
“Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri
tidak dapat Ia selamatkan.”-Markus 15:31
Menurutku, ayat di atas
merupakan penggambaran manusia pada umumnya. Sering sekali kita tidak bisa
menyelamatkan diri kita sendiri ketika sedang dalam masalah, tetapi kita sering
menyelamatkan orang lain ketika dalam masalah. Kita bisa membantu teman kita
untuk keluar dari masalahnya, tetapi kita tidak bisa keluar dari masalah kita
sendiri.
Selama ini, aku selalu
beranggapan kalau aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri, tidak butuh bantuan
orang lain. Aku memendamnya, menganggapnya sudah selesai, melupakannya, mencari
pelarian. Sampai di satu titik, masalah itu beranak pinak, semakin rumit sampai
aku tidak tahu akar masalahnya ada di mana.
Dulu, aku mengira
masalah terbesarku adalah kehilangan sosok bapak. Ternyata tidak. Masalahku
adalah kejadian-kejadian setelah kepergian bapak. Banyak yang berubah, banyak
yang pergi, banyak yang hilang. Bahkan, aku sempat kehilangan mimpiku, kehilangan
kepercayaan sama Tuhan.
Sebenarnya, aku sudah
sadar tentang semua masalah-masalah itu, yang membuatku hebat mencari pelarian,
tanpa pernah berpikir untuk ikhlas menerimanya. Ada beberapa masalah yang sudah
berhasil kuterima keberadaannya, tetapi lebih banyak lagi yang masih belum
kuterima.
Aku sadar, terlalu
banyak yang kulupakan selama ini, terlalu banyak yang luput dari pemikiranku.
Aku terlalu asyik berlari, tanpa ingin berdamai. Pertanyaan yang paling sering
muncul di kepalaku adalah, “bagaimana caranya untuk menerima?” Pertanyaan yang
jawabannya gak cuma, “sibuk-in diri kamu, capek-in diri kamu.” Jawabannya lebih
dari itu, yaitu, “ikuti prosesnya, izinkan Tuhan menjadi penyembuh melalui
tangan-tangan manusia yang Ia kirim ke hidupku karena aku tidak pernah bisa sembuh
sendiri, aku butuh penyembuh untuk sembuh.” Semua penyembuh begitu, akan selalu
butuh penyembuh untuk sembuh dari lukanya.
Selasa, 19 Januari 2021
Senja, Purnama, dan Bintang
“Hai semesta
mengapa malam ini kamu terlihat gelap sekali?”
Heh, purnama, yang selalu kutunggu setiap senja
pergi. Kenapa dia harus datang disaat aku mulai melupakannya. Kenapa tidak
sabit atau separuh saja yang datang. Meskipun sabit dan separuh tidak membawa
bahagia karena cinta, setidaknya mereka juga tidak meninggalkan luka karena
cinta.
“Apa kamu masih
tidak berdamai dengan senja yang selalu datang dan pergi dengan keajaiban
warnanya?” Tanyanya lagi.
“Kenapa kamu
masih di sini? Bukankah sudah waktunya kamu berkelana ke tempat lain?” Aku tidak memedulikan pertanyaannya tadi.
Tau apa dia tentang aku dan senja. Tidakkah dia tahu aku mencintai senja lebih
dari apapun. Senja tidak pernah melukaiku seperti dia. Meskipun senja selalu pergi namun dia berjanji
akan kembali, dan dia selalu menepati janjinya. Tidak seperti purnama, aku
benci tapi aku rindu.
“Kamu ini. Aku
tanya apa, kamu jawab apa. Sudahlah lupakan, waktuku hampir habis.
Ngomong-ngomong bintang di ufuk timur titip pesan. Besok dia akan datang
menemanimu, namun telat karena harus menghibur anak kecil yang kesepian di
Marsnesia.”
Bintang timurku.
Kuakui, dia satu-satunya yang bisa membuatku lupa akan luka yang ditinggalkan
oleh purnama. Aku tidak paham mengapa ia baik sekali padaku, padahal kami baru
saja berteman. Namun, setidaknya dia belum pernah meninggalkan luka seperti
purnama, ya, meskipun dia selalu membuatku kecewa dengan keterlambatannya
setiap berkunjung ke tempatku, di selatan.
“Aku yakin,
bintang timur itu pasti akan menjadi teman setiamu. Kuharap dia pun tidak
memberikan luka seperti yang pernah kuberikan padamu. Salam untuk senja juga.
Kemungkinan aku tidak akan bertemu kalian sampai waktu yang cukup lama. Di akhir
tahun nanti, tidak usah menungguku, aku tidak akan mengunjungimu lagi.”
Yogyakarta, Juni
2019
ms
Luka Dari Rumah
Kamu terluka. Adalah luka yang
disembunyikan oleh kedua orangtuamu selama bertahun-tahun. Surgamu telah
berubah menjadi neraka. Rumahmu bukan lagi rumah untuk berpulang. Tidak ada
kedamaian di sana. Tidak ada keharmonisan. Hanya ada ketidakpercayaan,
kecurigaan, dan perselisihan yang berulang-ulang. Kamu pun pergi menyelami
kesucian yang pernah kamu mimpikan di masa kecil. Kamu berjuang sendiri di sana,
seolah-olah menutup mata dan telinga akan apa yang terjadi di rumahmu.
Tidak teman. Itu tidak benar.
Kamu bukan lagi anak kecil. Tahun depan kamu sudah berkepala dua. Sudah
sepantasnya kamu berbicara. Mengatakan kebenaran kepada mereka. Membawa damai
ke rumahmu. Menyatukan yang hampir terpecah bela. Kamu berhak atas itu. Namun, aku terlambat. Kamu sudah menyelaminya terlalu dalam. Kamu hilang di
kedalaman mimpimu.
Berjuanglah! Selami lebih dalam
lagi sampai kamu menemukan apa yang kamu cari. Namun, kalau suatu hari nanti,
kamu menyadari apa yang terjadi di rumahmu, kembalilah. Jangan sungkan untuk
menangis dan berkata, “buat apa aku menjadi suci kalau aku mengabaikan rumahku?”
Menemui Mey 2022
Ruang persegi yang kecil dan gelap. Aku tidak asing dengan tempat ini. Tempatku menangis, tertawa, mengerjakan skripsi, dan tempatku tidak...
-
Aku menyebutnya matahari. Seorang teman baik yang hobinya membakar semangatku. Ia sangat berapi-api dengan ambisi. Dan biasanya orang yang...
-
Kan, kalau butuh teman bilang Tapi kau keras kepala Suara hatimu semakin tak terdengar, Kan Lalu bagaimana kau bisa mendengarkanku? Kan, k...

.jpeg)


